Berikut Penggalan Novel :
Suasana pagi begitu indah di tengah lautan. Kawanan burung bermain-main di kulit air. Sebagian hinggap di ranting kayu yang hanyut terbawa arus. Jauh di ufuk, fajar memancarkan sinarnya secera perlahan. Syam keluar dari bilik perahu menuju anjungan. Berdiri sambil memegang tali layar untuk menikmati pemandangan pagi. Syam sangat gemar melihat keindahan pagi dan sore. Yang indahannya hanya sekajap dan berlalu.
Tak terasa, mereka telah melewati dua malam di tengah lautan. Semakin jauh kapal berlayar, Syam semakin menemukan keteduhan hatinya. Dia selalu terlihat tenang, dan menikmati keindahan hamparan laut yang teduh, yang mampu meneduhkan jiwanya. Begitu juga malam, dia tenang sambil menikmatinya. Malam ini dia tidur terlantang sembari memandangi bintang-bintang di angkasa yang masih menyimpan berjuta misteri. Meski dingin menusuk tulang, namun Syam tak peduli, kenikmatan hamparan bintang di jagad raya seakan menutupi empedu dalam lorong hati dan jantungnya. Pak Ahmad yang tenang, selalu memperhatikan sikap Syam yang terbiasa memadangi senja, atau menunggu fajar serta menikmati keindahan bintang yang jauh.
Sorot mata Syam yang syahdu jauh tertuju pada kemuning awan senja di ufuk barat. Berdiri sambil bertengger di anjungan perahu dengan memegang tali layar. Pak Ahmad melihatnya dari dalam bilik perahu. Perlahan lelaki itu menuju Syam dan berdiri di belakangnya.
“Mungkin, tak ada lagi bintang malam ini” sapa Pak Ahmad memotong lamunan Syam.
Syam menoleh ke arah Pak Ahmad, yang sedang melihat ke langit utara yang hitam pekat. Syam ikut melihatnya, namun dia tak berkata apa-apa.
“Mungkin…., mungkin juga tak ada lagi fajar dan senja di hari esok” ucap Pak Ahmad melanjutkan.
“Waktu terus berputar pak, setiap hari selalu ada bintang, fajar dan senja…., hanya saja kadang terhalang oleh awan hitam yang pekat, hingga keindahannya tak bisa dipandang oleh mata…..” sergah Syam dengan datar.
Pak Ahmad hanya senyum tipis mendengar jawaban Syam sambil membalik pandangannya melihat senja yang ditelan malam. Sesaat kemudian, hujan mulai turun. Syam dan Pak Ahmad berlari kecil masuk ke dalam bilik perahu. Awan hitam pekat dari utara telah menutupi cakrawala dan mendatangkan hujan, yang semakin lama semakin deras.
Angin mulai menusuk dari setiap lubang dan celah dari bilik perahu. Rupanya hujan ini tak datang sendiri tapi juga datang bersama badai yang mulai ganas. Pak Ahmad keluar melihat kondisi cuaca sambil mengharapkan setitik lentera di balik kepekatan malam yang mencekam. Namun wajahnya ditampar angin yang datang bersama butiran hujan dan hempasan gelombang yang mulai dahsyat. Ia nyaris tersungkur, beruntung ia memegang daun pintu perahunya dengan keras. Laju perahu bagaikan jet. Layarnya tancap beradu kencang dengan angin yang bertiup kencang. Hingga perahu tak mampu dikendalikan.
“Toli……, Bahar……!!!, cepat tutup layar…!!” teriak Pak Ahmad, dengan nada panik, sembari mengusap wajahnya yang basa kuyup.
Toli dan Bahar langsung keluar dan menarik tali layar untuk menutupnya. Namun mereka mengalami kesulitan, karena angin terlalu kencang. Apalagi laju perahu yang sangat kencan membuat mereka ketakutan. Syam ikut keluar dan turut menarik tali layar, namun usaha mereka belum berhasil. Kecepatan perahu yang tak terkendali beradu dengan gelombang membuat mereka sesekali terhempas dari kuda-kuda mereka. Pak Ahmad hanya memantau dari dalam sambil memegang kemudi untuk mengendalikan perahu dengan tegang……
——————————————————————————————
Sinopsis :
Novel ini bercerita tentang perjalanan seorang pemuda asal Sulawesi Selatan yang bernama Syam. Dia memulai perantauannya dari desa Tanah Beru, sebuah desa terpencil penghasil Perahu Pinisi di Kabupaten Bulu Kumba, Sulawasi Selatan. Pelayaran pertama dimulai dari desa itu dengan menggunakan Perahu Lambo, salah satu perahu layar yang berukuran agak kecil dari Perahu Pinisi. Bersama-sama dengan empat temannya yakni Bahar, Sudar, Toli, dan Pak Ahmad. Mereka menuju Provinsi Maluku. Di dalam perahu ada berbagai macam peralatan rumah tangga yang siap didagangkan di Maluku.
Namun nasib berkata lain sebelum sampai di tujuan. Gelombang laut menghantam perahu mereka hingga tenggelam. Lantas bagaimana nasib Sudar, Toli, Pak Ahmad dan Syam. Apakah mereka selamat?
Cerita ini merupakan gabungan antara fiksi dan non fiksi. Penulis terinspirasi dengan kisah-kisah nyata yang terjadi di bumi Maluku. Nantikan ceritanya yang memuat berbagai nilai, mulai dari kisah cinta, hingga perjuangan untuk mempertahankan hidup di tanah rantau.
Catatan:
Penulis sengaja menghapus sebuah posting novel sebelumnya yang berjudul ‘Menabur Asa’. Karena rencananya novel ‘Selimut Duka’ akan lebih dulu dirilis dan diikuti dengan novel ‘Menabur Asa’.
